nonton film sabtu bersama bapak

Akhirnyahari sabtu pasca lebaran mama kembali menagih janji nonton. Film Sabtu Bersama Bapak benar-benar aku tonton besama bapakku, juga mama dan Mas Met. Entah kapan terakhir kalinya aku nonton di bioskop bersama orangtuaku, mungkin saat aku masih mengenakan seragam putih-merah, saat Jurasic Park yang pertama diputar di bioskop. Tapirasa menyesal tu rasa berbaloi juga dengan nikmat yang aku kecapi Nonton video Tante Selingkuh dan download bokep sex ngentot Tante Selingkuh gratis ceweknya cantik seksi manja nafsuin bikin ngaceng Rasa menyesal ada juga pasal aku dah tak virgin lagi dlm 3tahun baru dpt 2kali vidio ibu cantik menyusui, photo telanjang suzana, video bokep abg rumania, ibu ibu vidio ibu cantik menyusui Selasa 5 Juli 2016 | 04:50 WIB. Film ini bakal jadi salah satu film yang meramaikan liburan! Yuk simak alasan kenapa kita harus nonton film ini. Satudari lima film yang akan tayang, adalah film Sabtu Bersama Bapak (SBB). Film yang dibintangi Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Deva Mahendra, Arifin Putra dan Acha Septriasa ini akan diputar pada 5 Juli 2016. Sebelum lo bertanya-tanya kenapa lo harus nonton film ini, nih HAI kasih alasannya! Ini dia, alasan kenapa kita harus nonton Sabtu IniAlasan Kenapa Harus Menonton 'Sabtu Bersama Bapak'. Film drama keluarga 'Sabtu Bersama Bapak (SBB)' punya alasan khusus mengapa dia harus ditonton. Sang sutradara, Monty Tiwa, mengungkapkannya kepada detikHOT. "Film 'SBB' ini spesial karena energinya. Sedikit metafisika, energi dari hubungan seluruh tim dengan bapaknya masing-masing sangat Mon Mari Va Sur Des Sites De Rencontres Que Faire. Synopsis Even Though He is Gone, Father Will Always be There Gunawan had a wife, Itje, and two small children, Satya and Cakra. Their lives changed when Gunawan found out he only had one more year to live. Gunawan decided that death would not limit him from loving both children. Cast Crew Details Genres Releases Cast Director Producer Writer Studio Country Language Genre Theatrical 05 Jul 2016 Indonesia Indonesia Popular reviews More Cukup tersentuh melihat seorang bapak yang pergi meninggalkan semua wejangan sampai kedua anaknya menikah kelak. Diangkat dari novel, harusnya sih novelnya bagus ya kalau ngeliat film ini. Pembahasan yang diangkat seputar kehidupan pernikahan Satya di Perancis dan lika liku cinta Saka di pekerjaannya. Aku cukup suka bagaimana kedua anak ini selalu berpaku pada nasihat bapaknya, yang bahkan tidak mereka rasakan kehadirannya. Aku dah lama bgttt baca novelnya dan suka, terus dulu pas tau mau dibikin film reaksiku B aja sih. Ngga pengen nonton, bahkan setelah masuk platform digital pun ngga mau nonton. Tapi semalem karena gabut jadinya aku nonton. Pffft, lebih suka bukunya? Jelasss. Di film kaya apa ya, aneh jadinya. Karakter Saka Deva Mahenra juga ngapa dibikin aneh bgt sih, padahal di novel suka poll sama dia Tapi karakter Bapak yang diperankan Abimana Aryasatya dapet bgt sih, ketenangannya ngasih petuah-petuah lewat video demi anak-anaknya. HuhuDan yang paling ngga bisa dimaafkan adalah colour grading, efek-efek, dan blur-blurnya Allahu ganggu bgt ngga kuat nontonnya. Padahal ada setting tempat yang di Paris, tapi jadi jelek. Alay bgt semburat-semburat cahayanya. WKWKWK. NANGIS😭 Aktingnya oke sih, ceritanya juga sebenernya ga jelek-jelek banget karna ada beberapa bagiannya yang cukup ngena di hati, apalagi kalau udah masuk pov keluarga kecil Satya Arifin Putra. Suka banget sama aktingnya bu Ira Wibowo sama mba Acha Septriasa, keren! 2 karakter ini sih yang menurutku paling yang agak ganggu tuh guyonannya yang menurutku jayus abis, bahkan aku nggak ketawa sama sekali sama lemparan jokesnya itu. Karakter Cakra Deva Mahenra juga nggak ada lucu-lucu menggemaskan, malah jujur aku keganggu banget sama sikapnya dia yang kelewat grogi. Padahal kalau sikapnya normal-normal aja kayak pas di akhir itu jauh lebih oke sih. Terus hal lainnya adalah pada bagian color grading yang menurutku juga kurang enak diterima mata. Kesannya gimana ya… Gatau kenapa hampir selalu lebih suka sama novelnya dibanding dgn visualisasi filmnya. Keenam pemeran utama sudah kuat but it's a lil off buat supporting lumayan dapet, alur ga boring, pesan Bapak tersampaikan dgn baik. “Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adik-adiknya, tapi tugas orang tua kepada semua anak”― Adhitya Mulya, Sabtu Bersama Bapak Colour grading di film ini adalah gambaran nyata kualitas film ini di mata jelek bahkan keindahan Perancis ga menolong plus eksekusi yang kurang optimal menambah poin negatif film one of the best director in Indonesia fall asleep when watch this movie and I watch until the end when he sleep Melihat dari judulnya saja film ini bisa menjadi daya tarik, terlebih 'based novel' terkenal yang mampu membuat emosi pembacanya tidak mudah menuangkan sebuah kisah novel ke dalam visual-audio yang dibatasi oleh durasi. Namun setidaknya intisari dari novel itu sendiri harus baik diceritakan. Itulah yang menjadi kendala utama 'Sabtu Bersama Bapak'. Ia punya materi yang bagus, karakter yang oke dan potensi membentuk emosi penonton dengan mudah namun harus berakhir biasa saja, bahkan dibawah yang paling menjengkelkan adalah keputusan Monty Tiwa dalam memasukkan unsur komedi yang terlalu canggung. Memang tujuannya baik, memecah keheningan dan emosi penonton agar bisa lebih rileks, tetapi hal itu justru menjadi minus besar, terlebih pergeseran genre yang terlalu spontan dan terasa kasar. Itu… 'Sabtu Bersama Bapak' dimulai cukup goyah, khususnya ketika bagian kisah Satya tersaji lebih datar jika dibanding dengan pengisahan Cakra. Namun, secara perlahan, Monty Tiwa mampu membangun intensitas cerita menjadi lebih kuat dan hangat secara emosional. Para pemeran 'Sabtu Bersama Bapak' juga tampil apik, khususnya Deva Mahenra yang tampil kuat serta Jennifer Arnelita yang mampu mencuri terbesar pada 'Sabtu Bersama Bapak' mungkin muncul dari kualitas gambarnya yang seringkali terasa kurang fokus bahkan buram. Dan sama sekali gak mengerti apa kegunaan tampilnya "lens flare" di hampir setiap adegan 'Sabtu Bersama Bapak.' Seriously annoying. Premis yang bagus karena ide asli dari novelnya. Dari judul sebenernya memancing air mata tapi kenapa pas gue nonton sama sekali gak bikin nangis ya. Biasanya gue paling lemah sama drama keluarga kayak gini. Akting para pemain sih oke lah. Terutama Acha dan Ira Wibowo. Sheila Dara cantik banget. Abimana efforless as always. Deva ok. Arifin Putra kayak kurang fasih jadi orang sunda, tapi kalo bahasa Perancisnya baguuss 👏Entah kenapa antara drama dan komedinya kayak nggak nge-blend. Kayak ada 2 film yang berbeda dijadiin satu. Gue ngerasa Ira Wibowo dan Abimana lebih cocok jadi Tante dan ponakan daripada suami istri. 🙏🏻Keindahan latar Perancis kayak berasa kurang dimaksimalkan. Color Gradingnya juga kurang enak. Endingnya juga kayak kurang klimaks. Sayang banget. Semoga versi seriesnya akan lebih baik dari filmnya 🙏🏻 This review may contain spoilers. I can handle the truth. “Aku tak tau harus mulai dari mana. Aku tak tau harus menulis apa. Di tanganku duka. Di tanganku suka.”Penggalan lirik Lagu Cinta-nya Iwan Fals membawaku ke sini. Lagu yang jadi original soundtrack OST Sabtu Bersama Bapak, film yang diadaptasi dari novel bestseller dengan judul yang sama. Lagu yang mengiringi scene romantis di film itu, yang bukannya bikin aku senyam-senyum, tapi malah bikin aku nangis dengan bahu terguncang. Bikin Dita, temen nontonku waktu itu, nyikut lenganku. Aku noleh ke dia, trus dia geleng-gelengin kepala tanda heran. Ya, aku memang bikin heran sih. Alay. Gitu aja nangis. Tapi mau gimana, aku baper sama scene itu. Mungkin karena juga baper sama lagunya. Lagu Cinta keren. Lebih keren daripada lagu Iwan Fals yang… Meskipun ceritanya gak sama persis kayak di buku tapi film ini cukup bagus terutama dalam segi sinematografi dan visual dengan warna warna yang membuat Sabtu Bersama Bapak bagus adalah betapa emosional pembawaan dari segi plot yang bikin gw hampir nangis di beberapa scene. Rewatch3 taun yang lalu nonton film ini di bioskop sama Ibu, kemudian dengan sukses membuat beliau menangis-nangis berderai air mata berikut kapok gak mau lagi diajak nonton olehku. Sedih parah sih banyak value-value yang ada di keluarga, dari perspektif khusus seperti gimana dari seorang ayah, seorang ibu, seorang anak, dan berkembangnya mereka seiring waktu. Spesifiknya buatku adalah gimana film ini merangkum banyak hal yang ngenaaaaa bgt buatku; sebagai seorang laki-laki beranjak dewasa dengan satu orangtua yaitu IbuSecara sinema, cakep bgt, cuma ada beberapa kekurangan kaya terlalu banyak adegan yang diiringi musik sehingga kurang natural, dan adegan-adegan yang efek pencahayaannya berlebihan mostly at Saka's scenesJarang-jarang film Indonesia bertema keluarga bisa sehebat ini, salut! Jakarta Diantaranya 5 film Indonesia yang tayang saat lebaran 2016, film Sabtu Bersama Bapak menjadi salah satu film yang menguras air mata penontonnya. Film yang diperankan oleh Abimana Aryasatya, Acha Septriasa, Deva Mahenra, Arifin Putra, dan Ernest Prakasa ini diangkat dari Novel best seller karya Adhitya Mulya. Salah satu account twitter idfilmcritics membuat sebuah polling, dan menempatkan film Sabtu Bersama Bapak diurutan pertama dengan perolehan suara 72% dengan melibatkan lebih dari 1800 lebih nettizen. Acha Septriasa mengaku merasa senang dengan kepercayaan yang diberikan oleh netizen kepada film Sabtu Bersama Bapak. "Saya bahagia dan merasa bangga cerita drama keluarga Sabtu Bersama Bapak menjadi pilihan tontonan yg paling di Minati. Itu merupakan kerja team Yang solid dr team creative dan team Produksi secara tekhnis. Profesi saya ada , karena pembeli tiket bioskop," ujarnya saat dihubungi Minggu 10/7/2016. Acha berharap semoga semakin ada kepercayaan dari penonton film Indonesia untuk film Sabtu Bersama Bapak. "Semoga film Sabtu Bersama Bapak bisa meraih jumlah penonton yang lebih dan lebih lagi," ungkapnya. Dengan apresiasi yang diberikan oleh pecinta film Indonesia kepada film Sabtu Bersama Bapak, Acha mengucapkan rasa terimakasihnya. "Terimakasih sudah memilih film Sabtu Bersama Bapak menjadi tontonan keluarga saat lebaran, terimakasih telah merelakan waktu 100 menit nya untuk menyaksikan Karya kami. Support dari teman-teman penonton film adalah semangat kami untuk terus berkarya," ungkapnya. Film Sabtu Bersama Bapak bercerita tentang sosok ayah bernama Gunawan Garnida yang mengetahui kalau umurnya tidak lama. Gunawan tahu dia tidak akan dapat melihat kedua anaknya, Satya dan Cakra, tumbuh. Gunawan memutuskan untuk melakukan sesuatu agar kedua anaknya tetap tidak kehilangan sosok bapak dalam hidup mereka. Ini lucuk! sekian. Kalau dikira film ini film mellow, salah besar. Aku memutuskan untuk nonton film ini hanya semata-mata karena aku suka novelnya. Lihat-lihat pemain okelah. Lihat sutradara, kebetulan Monty Tiwa yang pekerjaannya aku lumayan suka. Pas pertama nonton, masih berasa tipikal film Indonesia yang terlalu teatrikal’ dan akhirnya kurang real. But then… the magic is just started. Film bagus kalau ceritanya kuat, flownya enak, akting para pemain meyakinkan, dan tambahan bonus, bikin aku ngakak. Sabtu bersama Bapak udah bisa masuk ke kategori film bagus. Memang masih ada yang bisa diperbaiki, but surely I enjoyed it so much. Film-film keluarga seperti ini memang yang diperlukan di Indonesia. Kita sudah jengah dengan film horror nggak jelas atau film-film percintaan remaja yang begitu-begitu saja. Terus terang tahun 2016 kemarin aku nggak begitu banyak nonton film Indonesia sebanyak yang aku lakukan di tahun 2015. Bahkan film ini adalah film Indonesia pertama yang aku tonton di tahun 2017. Film Sabtu Bersama Bapak kurang lebih sama jalan ceritanya dengan yang di novel. Tidak ada perubahan atau penambahan berarti, tapi memang penghidupan dari novelnya amat sangat kental. Aku kira awalnya vibenya akan sama dengan film Test pack yang notabene disutradarai oleh Monty Tiwa juga, berdasarkan dari novel yang kebetulan istri dari Aditya Mulya. Ternyata nggak juga. Malah versi lebih baik. Sabtu Bersama Bapak bercerita mengenai seorang bapak bernama Gunawan Garnida Abimana Aryasatya yang mendapatkan diagnosa bahwa dia mengidap penyakit kanker dan jelas waktunya tidak akan lama lagi. Gunawan mempunyai dua putra Satya Arifin Putra dan Cakra Deva Mahenra. Gunawan mungkin tidak bisa berbuat banyak soal penyakitnya, tetapi dia brpikir bahwa ada cara lain yang bisa ia lakukan untuk tetap membantu istrinya Ira Wibowo untuk membesarkan kedua putranya. Gunawan mulai merekam dirinya setiap hari. Isi videonya berisi banyak petuah dan pesan yang ingin kedua putranya value hingga tumbuh dewasa. Video pertama yang mereka tonton, bapaknya mengatakan “Bapak tahun depan mungkin harus pergi. Tapi, tidak apa bapak akan tetap bersama kalian. Senin sampai Jumat kalian belajar, Sabtu kalian akan ketemu bapak” dan begitulah kisah Sabtu Bersama Bapak dimulai. Tiap Sabtu dari mereka kecil hingga tumbuh dewasa, kakak adik Satya dan Cakra menghabiskan Sabtu sore mereka dengan ibunya di ruang keluarga untuk menonton video-video peninggalan bapak. Itje membesarkan mereka tanpa ada masalah. Keduanya lulus sarjana. Bahkan Satya mendapatkan pekerjaan dengan gaji bagus, sudah menikah dengan Rissa Acha Septriasa dan mempunyai 2 putra juga. Mereka tinggal di Perancis. Cakra juga mempunyai pekerjaan bagus di sebuah bank dengan posisi sebagai Deputy Director. Hanya saja, Cakra sudah hampir 30 tahun teapi belum menikah. Ternyata ganteng-ganteng begitu, Cakra mempunyai masalah kepercayaan diri kalau sudah ketemu dengan cewek. Tahun ini, Cakra bener-bener jatuh cinta dan berniat untuk menikahi seorang perempuan yang bernama Ayu Sheila Dara Aisha. Teori dari bapak sudh kenyang mereka makan, tapi ternyata pada dasarnya, Satya lupa kalau dia hidup di masa sekarang, dan ada waktunya juga dia mulai fokus dengan keluarganya sendiri ketimbang masa depan yang sudah dia rancangin. Keinginan untuk seperti bapak membuat Satya lupa bahwa setiap keadaan mempunyai ceritanya masing-masing, dan di sinilah pesan-pesan film dari si bapak mulai dicerna dengan pemahaman yang lebih. SPOV Aditya Mulya is one of my favorite authors. Selalu berhasil mengemas pesan dalam dengan tema guyonan. Monty Tiwa untungnya setipe. Alhasil, aku banyak ngakak. Awalnya aku kira, akan banyak mellow moment, tapi untungnya nggak. Apalagi performance Deva Mahenra yang lumayan mengejutkan. Dari pemilihan cast, aku bilang nyaris sempurnaa.. sayang banget Monty kurang maksimal dalam casting child actor. Aku tahu masalah utama film Indonesia, belum ada aktor atau aktris anak-anak ayng benar-benar bagus. Sebenarnya ada-ada saja, atau mungkin pihak produksi yang lupa bahwa elemen sekecil apapun di sebuah film itu penting. Dari cinematography, soundtrack, main casts and figuran excludin children talents, semuanya sudah mendekati kata sempurna. Sebagai satu kesatuan, film ini cukup bagus. Terlebih di bagian flow. Meng-adaptasi sebuah novel menjadi sebuah film bukan pekerjaan mudah. Kebanyakan bisa saja jadi jumpy. Meman di awal, film ini terkesan agak terburu-buru, tetapi begitu masuk ke inti cerita, berjalan jauh lebih baik. Selepas komenku tentang akting para anak-anak yang ada di film, semua cast lain dan juga para figuran dewasa semuanya oke. Abimana is my favorite actor next to Reza Rahadian. YES! I can state it like that. Performance dia di Negeri Van Oranje masih sangat memberikan kesan, dan di film ini juga bagus. Apalagi dia berperan sebagai bapak dan lawannya adalah aktris yang lebih senior – Ira Wibowo. Chemistry bapak anak juga terasa ketika dia bersanding dengan Arifin Putra. He is good. Oh iya, ini film reunian antara Arifin Putra dan juga Abimana yang dulunya bareng di Negeri Van Oranje. the most romantic scene – Abi and Ira Deva Mahenra is a pleasant surprise. Aku sebelumnya nggak pernah tahu orang ini pernah ada, mungkin karna udah lamaaaa banget nggak nonton sinetron. Tidak ada bekas akting sinetron. Kesan bodohnya juga dapat. Untuk Acha Septriasa, setelah nonton Test pack, aku makin suka sama aktris ini. Sebelumnya aku benci setengah mati dengan dia haha. Masih terngiang aktingnya di Heart yang gimanaaa gitu. Tapi, makin ke sini sudah amat sangat improved. Hanya saja mungkin karena karakter Rissa yang tidak beda jauh dengan karakter di Testpak. But overall, I enjoyed her performance. Nah, another pleasant surprise is ERNEST PRAKASA. Idiot yang brilian. Karakter tambahan di film ini asli membuat film ini jadi lebih humoris daripada novelnya. Salah satu penyebabnya adalah karakter si Ernest di sini. Mukanya udah mengundang tawa, ditambah dengan dialog yang tepat, he is the funny creature, the firecracker in the movie. Overall, good job Monty, akhirnya satu film Indonesia nyaris sempurna ada lagi. Production House Maxima Pictures Director Monty Tiwa Screen writer Aditya Mulya & Monty Tiwa Casts Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha, Ernest Prakasa, Jennifer Arnelita

nonton film sabtu bersama bapak